(Aksi Nyata 1.4 Budaya Positif)

Oleh: Denia Nugraha Asri Wahyuni, S.Hum, S.Pd, Gr.

SMP Negeri 1 Rancabali

Calon Guru Penggerak Angkatan II Kabupaten Bandung

  1. Latar Belakang

Berbicara tentang Budaya Positif di Sekolah tentunya tidak lepas dari apa yang di namakan dengan Kesepakatan Kelas. Dimana Kesepakatan Kelas di anggap sebagai fondasi utama dan pertama dalam proses penerapan budaya positif di sekolah. Kesepakatan kelas tidak hanya berupa peraturan di dalam kelas yang harus di taati murid dan diberikan konsekuensi bagi yang melanggar akan tetapi dalam proses pembuatan dan penyusunan nya yang melibatkan guru dan seluruh siswa untuk saling menyepakati bagaimana kondisi kelas yang diinginkan dengan harapan siswa akan lebih berkomitmen dan bertanggung jawab tentang apa yang sudah disepakati bersama. Berdasarkan latar belakang tentang pentingnya kesepakatan kelas, maka sebagai seorang calon Guru Penggerak, saya mencoba untuk menyusun Kesepakatan Kelas bersama siswa saya di sekolah. Dalam hal ini, karena secara khusus kesepakatan kelas di susun di Kelas VII-A dimana saya diberikan tanggung jawab untuk menjadi Wali Kelas VII-A di sekolah saya untuk tahun pelajaran ini, tahun pelajaran 2021/2022.

  1. Deskripsi Aksi Nyata

Kegiatan Penyusunan Kesepakatan Kelas secara umum dilakukan di awal tahun pelajaran ataupun di awal semester, mengingat awal tahun pelajaran ataupun awal semester merupakan tolak ukur yang tepat untuk memulai sebuah program dan melihat keberhasilan program tersebut. Secara pribadi saya begitu antusias dalam merencanakan dan melaksanakan pembuatan Kesepakatan Kelas ini, dengan harapan selain dari menerapkan apa yang sudah saya dapatkan di dalam Program Pendidikan Guru Penggerak juga saya bisa menumbuhkan budaya positif di diri siswa saya.

Penyusunan Kesepakatan Kelas di laksanakan pada hari Jum’at, 30 Juli 2021. Mulai pukul 08:00 s/d 09:00. Penyusunan Kesepakatan Kelas di lakukan secara Tatap Muka, bertepatan dengan jadwal peminjaman buku paket siswa di Perpustakaan. Dan mengingat bahwa saat ini sedang di berlakukan PPKM Level 4 di Kabupaten Bandung, maka kegiatan penyusunan Kesepakatan Kelas di lakukan dengan protokol kesehatan penuh dan menghindari kontak fisik yang berlebihan di ruangan kelas.

Adapun langkah-langkah yang saya lakukan dalam penyusunan Kepekatan Kelas adalah pertama-tama saya menjelaskan terlebih dahulu tentang kesepakatan kelas dan pentingnya penyusunan kesepakatan kelas, kemudian saya mengajak siswa berdiskusi tentang kelas impian mereka atau kelas seperti apa yang mereka inginkan dan kemudian mendiskusikan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai kelas impian mereka.

  1. Hasil Dari Aksi Nyata

Dalam penyusunan Kesepakatan Kelas, seluruh siswa nampak antusias dalam menyampaikan pendapat mereka tentang kelas impian mereka. Hingga dicapailah hasil berupa 7 poin kesepakatan kelas untuk kegiatan Pembelajaran Daring dan 7 poin kesepakatan kelas untuk kegiatan Pembelajaran Luring. Kesepakatan kelas ini tentunya masih berupa kesepakatan awal yang masih harus dilihat efektifitasnya, hanya saja dalam Praktiknya, apabila ada yang melanggar maka Kesepakatan Kelas ini akan diingatkan kembali, pun apabila ada yang harus di ganti atau ditambahkan, maka kedepannya akan diperbaiki secara bersama-sama.

  1. Pembelajaran yang Didapat

Idealnya kesepakatan kelas dilakukan dalam pembelajaran tatap muka sehingga efektifitasnya bisa lebih terlihat dari dalam diri siswa. Namun dengan adanya pandemi Covid 19 tentunya mempengaruhi pembelajaran secara keseluruhan. Hal itulah yang kemudian menjadi dasar di buat dua versi berbeda dalam kesepakatan kelas yaitu versi Daring dan versi Luring. Dengan harapan, bahwa dalam penerapannya kesepakatan kelas tersebut bisa lebih efektif dilakukan dan tentunya sudah disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa sebagai wujud keberpihakan terhadap siswa.

  1. Rencana Perbaikan di Masa Depan

Sebagai rencana perbaikan di masa depan, tentunya saya ingin membagikan praktif budaya positif tentang kesepakatan kelas ini kepada rekan guru yang lain baik yang merupakan wali kelas ataupun bukan, dengan harapan semakin banyak yang menerapkan Budaya Positif ini, maka akan membawa suatu kebiasaan yang baik di lingkungan sekolah yang pada akhirnya dapat terbangun menjadi sebuah visi sekolah.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *